Palembang, Haluan Sumsel– Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sriwijaya (UNSRI) melaksanakan kegiatan Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun 2026 dengan mengusung tema “Hilirisasi Produk Lokal Berbasis Ubi Jalar Melalui Manajemen Usaha, Diversifikasi Produk, dan Digitalisasi Pemasaran Guna Meningkatkan Nilai Tambah UMKM Kuemicel”.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, berdasarkan Kontrak Pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Nomor 191/C3/DT.05.00/PM/2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kuemicel agar mampu menghasilkan produk olahan ubi jalar yang lebih inovatif, bernilai tambah, dan memiliki daya saing di pasar yang semakin kompetitif.

 

Ketua Tim Pengabdian, Muhammad Andri Zuliansyah, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa ubi jalar merupakan salah satu komoditas pangan lokal yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui proses hilirisasi. Selama ini, pemanfaatan ubi jalar masih didominasi dalam bentuk produk sederhana sehingga nilai ekonominya belum optimal.

 

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong UMKM Kuemicel agar tidak hanya menjual produk olahan konvensional, tetapi mampu menciptakan inovasi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Hilirisasi menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperluas peluang pasar produk pangan lokal,” ujarnya.

 

Guna mendukung peningkatan daya saing UMKM, tim pengabdian menyusun rangkaian kegiatan dalam tiga pelatihan utama yang saling terintegrasi, yakni pelatihan manajemen usaha dan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), diversifikasi produk melalui pembuatan puree ubi jalar, serta digitalisasi pemasaran berbasis media digital.

 

Pelatihan pertama mengangkat tema Manajemen Usaha dan Perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) yang disampaikan oleh Nia Meitisari, S.E., M.Si. Pada sesi ini peserta dibekali pemahaman mengenai pengelolaan usaha yang baik, mulai dari pencatatan keuangan sederhana, penyusunan biaya produksi, hingga penentuan harga jual yang tepat agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.

 

Nia mennjelaskan banyak pelaku UMKM masih mengalami kesulitan dalam menentukan harga jual karena belum menghitung biaya produksi secara menyeluruh.

 

“Dengan memahami HPP, pelaku UMKM Kuemicel dapat menentukan harga yang kompetitif sekaligus memperoleh keuntungan yang lebih terukur sehingga usaha menjadi lebih sehat dan berkelanjutan” jelasnya.

 

Selanjutnya, Ketua Tim, Muhammad Andri Zuliansyah, memberikan pelatihan mengenai Diversifikasi Produk dan Produksi Puree Ubi Jalar. Pada sesi ini peserta memperoleh praktik langsung mengenai proses pengolahan ubi jalar menjadi puree sebagai bahan baku setengah jadi yang memiliki umur simpan lebih panjang serta dapat digunakan untuk berbagai produk olahan seperti brownies, donat, pie dan cookies.

 

Andri menjelaskan bahwa inovasi puree ubi jalar menjadi salah satu bentuk hilirisasi yang mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperluas variasi produk yang dapat dipasarkan.

 

“Inovasi puree memberikan nilai tambah karena mampu meningkatkan efisiensi proses produksi sekaligus memperluas variasi produk yang dapat dikembangkan oleh UMKM Kuemicel. Diharapkan bagi pelaku usaha memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang” ungkapnya.

 

Sementara itu, pelatihan ketiga mengenai Digital Marketing disampaikan oleh Dendi, S.I.Kom., M.I.Kom. Materi yang diberikan meliputi strategi pemasaran digital, pemanfaatan media sosial, pembuatan konten promosi yang menarik, branding produk, hingga optimalisasi pemasaran melalui platform digital.

 

Dendi menjelaskan, transformasi digital menjadi kebutuhan utama bagi UMKM agar mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.

 

“Saat ini konsumen banyak mencari produk melalui media digital. Oleh karena itu, kemampuan membuat konten kreatif, membangun identitas merek, serta memanfaatkan media sosial menjadi modal penting bagi UMKM Kuemicel untuk meningkatkan penjualan,” katanya.

 

Ketiga pelatihan ini mendapat sambutan positif dari mitra UMKM Kuemicel. Selain memperoleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan, peserta juga mendapatkan pendampingan dalam menerapkan materi yang telah diberikan sehingga dapat diimplementasikan secara langsung dalam pengembangan usaha.

 

Melalui kegiatan pengabdian ini, Universitas Sriwijaya berharap UMKM Kuemicel mampu menghasilkan produk olahan ubi jalar yang lebih inovatif, memiliki sistem manajemen usaha yang lebih profesional, serta mampu memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pemasaran yang efektif.

 

Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, melalui sinergi antara perguruan tinggi dan pelaku usaha untuk memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal. Dengan adanya hilirisasi produk, diversifikasi inovasi pangan, dan digitalisasi pemasaran, diharapkan UMKM lokal semakin berkembang, meningkatkan nilai tambah produk, memperluas akses pasar, serta memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat dan ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal. (*)

Artikulli paraprakDua Tersangka Kasus Korupsi Dana Peremajaan Sawit Rakyat Ditahan Kejari Musi Rawas
Artikulli tjetërSidang Angga Prasetyo, Saksi Sebut Empat Kali Ambil Sabu dari Tulung Selapan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini